Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryMay 19, '11 4:14 AM
for everyone
Cerpen M. Irfan Hidayatullah S Dimuat di Pikiran Rakyat 12/13/2009 Seluruh penghuni rumah heboh dengan bau bangkai yang kucium. Padahal aku baru saja sampai rumah setelah hampir satu semester tidak pulang karena sibuk kuliah dan melakukan aktivitas kemahasiswaan lainnya, di antaranya demonstrasi. Tentu saja semua kaget, apalagi saat sekonyong-konyong aku mengajak semua orang di rumah untuk menghentikan segala aktivitas masing-masing selain mencari sumber bau bangkai itu. Ibu, adik-adikku, dan para pembantu kami yang berjumlah sekitar lima orang mendadak ikut heboh. "Aku di ruang tamu, ibu di kamar, dan adik-adik di kamar masing-masing, Mang Jirin di lantai dua, Bi Munah di dapur, Mang Komar di taman belakang, Bi Asih di ruang tangah, dan Mang Koko di atap! Pokoknya hari ini harus ditemukan di mana sumber bau bangkai itu!" Aku memimpin pencarian. Dan mereka tak ada yang menolak. Kami pun menyebar ke tempat masing-masing untuk mencari sumber bau itu. Tentu saja aku tahu mereka bingung, tetapi aku lebih bingung lagi karena bagaimana bisa bau bangkai yang menyengat itu tak mengganggu mereka. Kami belum sempat kangen-kangenan. Aku belum sempat memeluk ibu dan mencium tangannya. Adik-adikku juga belum sempat bersalaman dan mencium tanganku. Dan para pembantu yang sangat akrab denganku itu belum sempat bertegur sapa dan bercanda denganku. Bau bangkai di rumah kami mengalahkan itu semua. Namun, anehnya mereka tak mencium bau itu sama sekali. Ayahku tentu sedang tidak ada. Walaupun hari ini hari Minggu, ia tetap tidak punya waktu untuk keluarga kecuali secara tiba-tiba ia mengajak kami berlibur ke suatu tempat yang tidak kami sangka-sangka. Semuanya disesuaikan dengan tampat pertemuan ayah dengan para kliennya. Ah, walaupun demikian ayah tetaplah pahlawan bagi kami karena dari keringatnyalah kami memiliki rumah besar dan nyaman dan bisa mendapatkan fasilitas hidup yang serba cukup bahkan mewah. Konon, bahkan tidak hanya kami yang ayah buat bahagia, tetapi ribuan orang. Ia mempekerjakan ribuan karyawan di perusahaannya yang memiliki cabang di hampir lima kota di negeri ini. Ah, ayah adalah sosok yang selalu kami rindukan. Ia seperti pahlawan yang fotonya sering ditempel di tembok-tembok sekolah dasar di negeri ini. Begitu juga saat ini. Aku sedang memandangi fotonya yang tengah bersalaman dengan presiden pada suatu acara kenegaraan. Wajah ayah tidak tampak jelas karena ayah hampir membelakangi kamera. Hanya, kami betul-betul yakin bahwa itu adalah ayah. Itu betul-betul sosok ayah yang kami kenal. Posturnya, caranya membungkuk (ia memang sering membungkuk terutama pada orang yang jabatannya lebih tinggi, apalagi pada presiden), bentuk kepalanya yang lebih besar dari umumnya kepala, dan dari rambutnya yang sudah mulai kelabu. Ah, kami bangga sekali dengan foto ini, dan ibu (atas perintah ayah) selalu menyuruh Bi Asih merawat foto tersebut; membersihkannya dari debu dan mengilatkannya setiap hari. Foto itu memang hampir keramat bagi kami karena sepanjang keturunan, baik dari ayah maupun dari ibu, belum ada yang berkesempatan bersalaman dengan presiden. Betapa bangga kami. Bangga pada segala nikmat yang diberikan-Nya pada kami. Nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya. Dan tentu saja, nikmat mempunyai ayah seperti ayah kami yang maju, kaya, dan berwibawa. Tiba-tiba semua orang yang tengah mencari sumber bau itu sudah ada di belakangku dan semua fokus pada yang kulakukan. Ibu melihatku sambil geleng-geleng kepala, adik-adik berkacak pinggang, para pembantu pada bengong. Kini, aku tengah memegang foto itu dan mencium foto itu dari berbagai sisi dan sudutnya. Dan aku mau muntah. Bau bangkai ternyata bersumber dari foto itu. Dan sesuatu mendesak dari perutku menuju kerongkongan. Aku berlari ke kamar mandi, menyibak semua yang tengah melihat dengan aneh diriku lalu hampir semua isi perutku keluar di kamar mandi. Kepalaku serasa berputar. Rasa enek dari bau bangkai itu betul-betul tak bisa kutahan lagi. Bau bangkai yang baru kurasakan selama hidupku. Setelah selesai dengan urusan perut, aku kembali ke ruang tamu dan foto itu. Aku melihat semua tengah membaui foto itu, seperti seekor kucing membaui benda yang disangkanya makanan. Namun, mereka saling pandang kemudian. Pandangan mata mereka begitu menyiratkan kepenasaran dan keanehan. Mereka geleng-geleng kepala. Lalu mata mereka melesatkan panah-panah ke arahku. Aku sekonyong-konyong lari ke kamar ayah dan ibu (lebih karena penciumanku menunjukkan bahwa ada sumber baru daripada karena panah pandangan mereka). Namun, bisa juga karena pandangan mereka yang memanah aku ingin segera membuktikan kebenaran tentang bau bangkai itu. Mereka mengejarku. "Di sini bau bangkai itu semakin kuat, Bu! Ibu tidak menciumnya? Coba Ibu tengok lemari baju, pasti sumbernya di sana." Tanpa menunggu tanggapan ibu, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju. Namun, sebelum ibu angkat bicara memarahiku, dari luar pagar rumah kami mendengar suara klakson mobil ayah yang biasa ia bunyikan setelah memasuki gerbang otomatis rumah kami. Aku pun segera berlari ke bawah dan siap menyambut kedatangan ayah. Semua terasa hiruk-pikuk. Ada suatu yang tidak tentu di rumah kami. Keheranan dan ketidaktahuan menjadi penguasa saat ini. Hanya aku yang merasakan bau itu dan mereka seakan melihatku sebagai orang gila. Begitulah, ayah sekarang telah berdiri di hadapan kami. Akan tetapi, kami tak bicara sepatah kata pun. Semua senyap, membisu, dan saling menunggu. Beberapa detik, beberapa menit. Dan aku nggak tahan lagi untuk memulainya, tetapi aku enggak sanggup melihat ayah yang pulang dengan kuyu , tak seperti ayah kami sebelum ini. Ia kini hadir sebagai sosok baru yang seolah menyerahkan semua beban tubuhnya ke bumi. Nglumruk, lungrah, dan seperti akan pecah. "Jangan katakan Ayah terlibat kasus itu, Yah!" ujarku. Ayah diam. "Maafkan Ayah, Nak... maafkan Ayah...." ia berkata dengan tertunduk. Di matanya tergenang air. Akan tetapi semua senyap, kecuali perutku yang kembali mual dan mendesak untuk dikeluarkan. Dan aku tak bisa menahannya. Isi perut itu terus-terusan seperti berdemo dan ingin eksis. Ia menjebol dinding pertahananku. Lalu... Brusss... semua sisa isi perutku menyembur tepat di wajah Ayah. Semua menjerit.*** Bumi Sentosa, 11 November 2009

Blog EntryJul 25, '09 1:45 PM
for everyone

BAHAGIA  ATAS SEBUAH KEGAGALAN

 

                Kegagalan yang menyakitkan adalah saat sebuah kemelencengan tak terhentikan. Kegagalan yang ditemukan saat semuanya telah begitu terlambat, saat diri telah menjadi lain lagi, saat seseorang telah tidak dikenali oleh dirinya sendiri. Ia teralienasi di tengah gegap gempita ruang dirinya dan di tengah hiruk pikuk massa yang tak pernah diam. Kegagalan yang menyakitkan adalah sebuah keterlambatan munculnya kesadaran.

                Saya jadi teringat pada Firaun yang dikisahkan meneriakkan kesadaran saat ajal telah di ubun-ubunnya. Ia menjadi simbol dari sebuah keterlambatan yang menyakitkan. Ia yang terlena dan menganggap dirinya penggenggam kekuasaan kemudian disadarkan oleh sebuah proses kematian.  Betapa, saya sering beristighfar atas sebuah keterlambatan yang tak satu orang pun tahu akan menimpa dirinya atau tidak. Dari fenomena Firaun saya memosisikan diri pada sebuah bingkai imajiner kehidupan.

                Ya, sepertinya membuat imajinasi atas ruang sementara kehidupan dalam kehidupan sementara diri adalah sebuah solusi menghindari kegagalan yang menyakitkan. Mari kita andaikan diri kita pada sebuah batas usia; besok misalnya adalah hari kematian kita; minggu depan kita misalkan sebagai hari kematian kita; bulan depan bisa jadi adalah waktu tempat kita meninggal; atau tahun  depan. Imajinasi batas waktu adalah sebuah upaya rasionalisasi atas ketakberdayaan kita pada takdir. Dan dari semua batas waktu yang kita jadikan batas tentu saja anggapan bahwa kematian adalah batas terdekat dari hidup kita yang akan membuat munculnya kesadaran tidak datang terlambat.

                Firaun mungkin telah terlipat waktu karena ia terlena oleh kekuasaan yang menguntungkannya. Firaun mungkin telah tak punya batas imajiner hidup karena ia merasa diriyalah yang memiliki segala batas-batas itu. Begitulah laut dijadikan realitas ruang bagi kematiannya yang jadi fenomena itu. Ia tewas pada keluasan yang membuatnya hanya menjadi sebuah titik. Saya hanya bisa membayangkan betapa sakitnya Firaun atas kegagalan dirinya untuk menjadi sadar pada waktunya.

                Dari semua, itu adalah sebuah kebahagiaan saat kita menyadari bahwa kita orang yang gagal. Bahagia atas sebuah kegagalan adalah bahagia atas kesadaran yang tidak datang terlambat dan bahagia atas perhatian Tuhan pada masa depan kita. Wallahu’alam.

                                                                                                                                                Bumi Sentosa, 29 Juni 2009


Blog EntryFeb 28, '09 1:56 PM
for everyone

SKETSA YANG TAK PERNAH UTUH

; Refleksi Tiga Enam Usia

Oleh: Irfan Hidayatullah

                Tak pernah kelar. Aku memandang diri ini. Detil pada cermin itu adalah hanya semacam sketsa yang tak pernah menjadi gambar utuh. Selalu saja ada sudut gambar diri yang harus diperbarui, dihapus, dipertebal, atau warna-warna diri meminta untuk dibenahi. Ini karena kemauan kemanusiaan yang tak pernah puas atau aku memang belum sampai pada titik itu? Pertanyaan itu pun tak pernah selesai kujawab.

                Pada Usia ini Muhammad pun tengah asyik gelisah, tapi di mana gua Hiraku? Akankah aku khusyuk mencari untuk menjadi dan pasrah pada apa yang kusimpulkan ataukah aku tak pernah merasa selesai dalam hal apa pun? Di manakah gua Hiraku? Di tengah dunia abu-abu itu seolah eksistensinya sumir. Manusia sekarang tak perlu gua-gua Hira seperti Muhammad berkhalwat dengan Tuhan. Risalah itu seolah telah tuntas dan kamu tinggal melaksanakannya. Menurunkannya pada aksi. Jawaban itu menggaung dari sudut-sudut ruangku yang telah begitu urban. Tapi betulkah, telah tak perlu kesunyian, kesubliman, tempat aku berpikir mendalam? Dan realitas menjawabnya tergesa lagi; iya! Kau tak memerlukan itu lagi karena kau akan tertinggal. Ini zaman adalah buat manusia yang berlari, tunggang langgang (meminjam istilah Giddens). Dunia tunggang langgang tempat manusia terbirit-birit menemukan dirinya dan memasarkan dirinya. Untuk jadi seseorang kau tak perlu konsep detil dan tuntas, kau hanya perlu keberanian dan situs tempat kau diperkenalkan dan dipandang. Siapkan saja foto diri yang paling menarik dan CV yang menjual. Sedikit berlebihan tak apalah, tak ada yang tahu kecuali dirimu dan Tuhan.

                Inikah apologia zaman ini? Saat kebaikan menjadi komoditas proses menuju kebaikan itu tak perlu jalan bersih. Kau bisa menjadi sosok menarik dengan hiperbolis dan narsis pada blog-blog dan situsmu yang terpenting adalah kau sedang memproduksi kebaikan lewat sosokmu. Dakwahmu adalah dakwah postmodernis ekstrim yang tak memerlukan lagi kata berpikir ulang dan luhung. Biarkan proses hiperbolis dan narsis yang banal itu jadi jalan karena semua melakukan itu. Bila kau tak seperti itu kau takkan laku, jualan kebaikanmu (baca dakwah) takkan berhasil tanpa ruh zaman seperti itu. Kenapa tidak segera kau cantumkan prestasimu di situsmu kalau perlu dalam bahasa Inggris, biarkan orang lain tahu bahwa kau berkualitas dari mulutmu sendiri. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa kau punya segudang kekurangan dan kau belum selesai karenanya. Tutupi mata orang dengan ketokohanmu. Bangun ketokohanmu oleh dirimu sendiri, bikin otobiografi. Jangan menunggu orang lain menuliskan dirimu, kau akan keburu mati. Kalau perlu napikan orang yang menghalangimu, yang mengkritikmu, dengan catatan kebencian yang tak habis-habis itu semua akan terkubur oleh fans-fans beratmu. Ingat kau di dunia etalase sekarang, sejak PSK sampai ustaz-ustaz sekarang dipajang di etalase-etalase zaman. Jangan, jangan banyak berpikir atau kau akan ketinggalan atau dicibir.

                Sosok dicermin itu, di 36 usianya, tampak terpaku. Aku mencoba menambahkan warna putih pada rambutnya dan sketsa tubuh itu pun tepi-tepinya bergeser. Tubuh itu telah melebar, rambutnya sudah ada yang memutih (utusan Tuhan) dan luruh-rontok. Luas kening semakin bertambah. Tepi rambut bagian depan seperti pantai siang menuju sore; surut (setelah rob atau pasang semalam). Cara berdirinya pun harus sedikit diubah. Sketsa itu sekarang telah tak setegap dulu. Pada sendi-sendinya sudah mulai ada ngilu-ngilu asam urat. Pada dadanya terdapat engah yang tak biasa saat lelah menerpa. Begitulah sketsa itu berubah dengan perlahan. Sketsa yang tak pernah menjadi, terus menjadi, sampai satu titik kalkulasi. Ah, titik itu yang kau sebut kematian adalah bayangan di sketsamu. Siapa tahu esok kau akan menggambarnya terbujur sepi, pasi.

                Sekali lagi. Pada usia ini Muhammad tengah pada puncak gelisah. Aku harus mencari gua hiraku. Aku tak boleh meninggalkan gua hira itu. Aku akan memandang realitas diri ini dari ketinggian dan kesunyian. Begitpun realitas kehidupan yang tunggang langgang itu bisa kulihat dengan cermat lalu kutuliskan dengan perlahan. Aku pun bisa melihat sketsa-sketsa orang-orang di sekitarku yang terseret zaman atau bahkan mereka yang merasa telah selesai dan merasa berjasa pada zaman dengan segala anugerah di pundaknya. Atau aku pun bisa melihat sketsa manusia-manusia pejuang yang lupa memajang dirinya saking sibuknya berjuang. Manusia-manusia yang ditulis sejarah bukan menulis sejarahnya sendiri dan lalu puas (onani). Manusia-manusia yang berada di belakang tokoh-tokoh yang berebut kursi dan memajang diri di baligo-baligo factual maupun virtual. Sekali lagi. Pada usia ini Muhammad tengah pada puncak gelisah. Beberapa tahun kemudian ia dipilih Tuhan menjadi rasul-Nya.

                Oh, jangan bandingkan dirimu dengan rasul-Nya, kekasih-Nya. Kau hanya sepercik diri yang mencari percikan permenungan. Kau hanya bukan pencari jalan pintas (baca. Quantum). Lihat sketsamu wahai aku! Sketsamu yang tak pernah utuh itu. Sketsa manusia yang absolut lemah. Wallahu a’lam.

                                                                                                                                                Bumi Santosa, 1 Maret 2009


Blog EntryJan 26, '09 11:54 PM
for everyone

Oleh M. Irfan Hidayatullah

Hayat hampir pecah.  Kini ia berada di tengah teks-teks terbuka. Ia kini berada di ruang penuh display yang tak berbeda satu sama lain. Ia tak mampu membedakan antara realitas dengan imajinasi.  Namun, sayangnya ia tidak bisa lari dari fenomena tersebut. Fenomena tersebut ada di mana-mana. Sejak keluar dari pintu kamarnya, di kotak yang bernama televisi, sampai ke sekolah tempat yang seharusnya ditanamkan karakter.
    “Sorry, Yat! Gue nggak sepakat dengan cara lo melihat sesuatu. Secara kita nggak bisa menghindari lingkungan sosial dan kemajuan zaman,” ungkap Sulaiman alias Leman alias Sule yang selalu ingin dipanggil Leeman (dibaca Liimen).
    “Maaf, Sule... ini di Bandung, kenapa harus ber-sorry-sorry. Jika kamu mau berlatih bercakap bahasa Inggris aku siap meladenimu,” balas Hayat.
    Sulaiman mengernyit lalu pergi. Belum sempat menarik napas beberapa saat kemudian hayat menonton sepasang remaja kasmaran lewat. Hayat mendengar selintas percakapan mereka.
    “Bab (baca beb dari baby), take care. Hati-hati, ya, Baby?” sang perempuan berseragam putih-abu berrok beberapa senti di atas lutut berujar mesra pada pacarnya. Sang laki-laki tentu saja tersenyum bangga. Perempuan itu sudah takluk, pikirnya. Hayat jadi teringat sinetron, pemain sinetron, lagu, atau penyanyi lagu.
    Hayat hampir pecah. Ia sebenarnya tidak sedang berada di sekolah. Ia sebenarnya sedang di depan rak-rak di sebuah toko buku. Rak-rak yang di matanya kosong melompong dari buku. Hanya ada beberapa buku saja yang Hayat lihat. Rak-rak kesepian, pikir Hayat. Namun, Hayat melihat orang begitu antri membeli buku-buku yang sedikit itu. Anehnya buku-buku itu tidak habis-habis. Hayat bingung, kenapa orang tak bosan-bosan membaca buku yang sama, dari segala sisinya; kaver yang sama, judul yang sama, tokoh yang sama, konflik yang sama, dan bahkan ending yang sama (kata sama bisa diganti mirip, tapi kata mirip intinya adalah sama, tak beda, atau tak dibuat beda karena yang (seolah) bagus adalah yang seragam).
    “Kang, kenapa Akang beli buku itu dua-duanya. Bukankah buku itu sama?” tanya Hayat pada  seorang laki-laki yang bernafsu membeli.
    “Kata siapa sama. Buku ini jelas-jelas beda, lihat!” laki-laki itu menunjukkan buku-buku itu persis di depan mata Hayat. Dan Hayat tidak buta. Ia melihat dua buku yang kavernya sama-sama wanita berjilbab yang di sisi kanan atasnya sama ada tulisan best sellernya yang nama penulisnya satu jenis juga. “Kamu siapa?” lanjut laki-laki itu merasa aneh.
    “Saya Hayat, Kang.” Jawab Hayat sambil menyodorkan tangan.
    “Sekolah atau kuliah?” tanya si  Akang sambil menerima salam Hayat. Sebelum Hayat sempat menjawab si Akang melanjutkan omongannya,”Ini buku laris, Yat, best seller. Teman-teman saya pada beli. Ceritanya menyentuh, seperti Ayat-Ayat Cinta, tapi katanya ini lebih dramatis. Konon katanya juga akan difilmkan seperti Ayat-Ayat Cinta. Selain itu, lihat endorsmentnya, Yat. Para sastrawan senior memberi tertimony untuk buku ini. Pokoknya, konon katanya buku ini bagus... kamu harus beli ....”
    Hayat hampir pecah. Ia sebenarnya tidak sedang berada di sebuah toko buku. Ia kini berada di depan etalase sebuah gerai (baca toko karena dua istilah ini susah dibedakan, yang jelas sama-sama jual sesuatu) baju di sebuah mal. Ia telah berkeliling dari gerai ke gerai. Ia telah bertemu dengan berpuluh manekin. Kini Hayat sedang melihat manekin di balik kaca tebal yang juga memantulkan bayangannya. Ia bingung dengan fokus penglihatannya. Dirinya, manekin, atau baju yang dipakai manekin itu yang dia lihat. Semua serba bertumpuk.
    “Hai!  Jangan melamun terus atuh nanti kemasukan. Lagi baca apa?” Mamat memotong renungan Hayat.
    “Astagfirullah, ngagetin aja kamu mah, Mat! Ini lagi baca Drunken Monster, Catatan Harian Pidi Baiq; Kumpulan Kisah Tidak Teladan. Buku yang menarik menurut saya, sudah baca?”
    “Alhamdulillah, udah!”
    “Mau diskusi?”
    “Ah, nanti saja. Sudah waktunya salat zuhur. Kita ke musala, yuk!”
    Hayat dan Mamat pun beranjak dari perpustakaan, ruang tersepi di sekolah. Mereka menuju musala.
                                    Bumi Sentosa, 15 Agustus 2008                                    








Blog EntrySep 12, '08 6:46 AM
for everyone
Aku menemukan diriku begitu ringkih. Ia berjalan dengan beban tas ransel dan begitu banyak cita-cita. Ia kadang termenung di setiap perjalanannya. Kadang ia pun sering bertanya pada apa yang terus ia obsesikan. Kenapa wahai aku begitu bernafsu dengan setiap capaian pada sisa umurmu? Padahal kau tak mampu sebenarnya. Kau hanya seseoang yang naif yang tak mentolerir setiap ketergenangan.

Aku menemukan diriku begitu ringkih. Ia meninggalkan Bandung setiap Selasa malam menuju Depok untuk sekadar belajar. Ia pun bertapa di sebuah kamar kos kecil dengan kasur yang sudah hampir rata di dipan. Rabu, ia menemui orang-orang yang memusingkan diri dengan segala teori, setelah Melani Budianta, Bahtiar Alam, besok giliran Toeti Herati. Dan ia hanya duduk di barisan depan bangku. Hanya mencoret-coret apa yang ia mampu tangkap, kadang tak hanya sepersepuluh dari apa yang dibicarakan mereka. Sementara itu, penghuni ruang yang acnya terlalu kencang itu semua terpekur menunduk dalam. Semua begitu bingung. Kamis, ia menemukan dirinya tengah membaca apa saja, menulis apa saja, merenung apa saja, kadang berjalan ke mana saja. Ke mana kaki membawa langkah. Jumat ia kembali bergabung dengan bingung di ruang yang penuh gaung. bergulat dengan ontologi dan epistemologi dan setiap jejak pemikiran kemanusiaan hingga melayang. Plato, Aristoteles, hingga Derrida adalah tokoh-tokoh diatara begitu banyak tokoh yang berkeliaran di tempat itu. Tokoh-tokoh iseng yang kadang mengetok batok kepalanya, menggelitiknya, atau sekadar menyentuhnya untuk tersuruk dari bangku itu. Jumat sore, ia pun menuju pull ebuah travel dengan rindu menggunung seraya membayangkan pukul sepuluh nanti malam pintu di bukakan istrinya yang bermata penuh kantuk, namun berusaha senyum.

Aku menemukan diriku begitu ringkih saat kadang harus berada di mimbar itu di sebuah ceramah isya dan kuliah subuh. Ia bingung sebenarnya atas apa yang harus dibicarakan saat itu. Masalahnya, selain ringkih tubuh ia juga ringkih ilmu.

Untuk hari-hariku sejak Ramadhan hari kesatu.

Blog EntryDec 4, '07 9:29 PM
for everyone

Pada pagi kau hilang

 

Menjamah hasrat diri

Pagi ini trasa sekali

Betapa aku jatuh cinta pada kesementaraan

Kefanaan adalah pesona

Dan kau adalah bunga

Yang akan kusiram

Lalu akan kuhitung hari

Deti-detik kelayuanmu itu

            Bersama kerapuhanku

 

Aku jatuh cinta padamu

Karena kau fana

Aku jatuh cinta padamu

Karena kau dunia

Aku cinta pada-Nya

Karna rasa cinta

 

                        12 Maret 2007


Blog EntryDec 4, '07 2:53 AM
for everyone

MERAYAKAN KREATIVITAS, MERAYAKAN MEDIA

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

           

            Kelahiran karya sastra atau karya kreatif pada umumnya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan media. Media bahkan bagi sebuah karya (menurut saya) seperti ibu kandung kedua setelah penulisnya. Darinya sebuah gagasan berhasil dilahirkan ke masyarakat. Bila penulis sebagai ibu kandung pertama memiliki rahim kreasi atau presentasi, media memiliki rahim rekreasi atau representasi. Bila pada ruang kreasi penulis bergelut dengan gagasan yang kemudian dicarikan bentuk fisiknya (bisa fiksi atau nonfiksi), ruang redaksi media bergelut dengan bagaimana wujud gagasan itu dilahirkan sesempurna mungkin dalam momen yang setepat mungkin.

            Ya, bahkan bila kita menilik ke masa lampau saat sastra masih dilisankan, kita bisa membaca akan adanya media representasi karya sastra, yaitu lewat macapatan, pagelaran yang berhubungan dengan adat setempat sampai dongeng sebelum tidur. Semua itu adalah media yang melahirkan karya-karya para seniman di ruang sosial atau masyarakat. Jadi, takada bedanya, kapan pun di mana pun karya kreatif dengan media sangat erat hubungannya.

            Pada era selanjutnya, yaitu era cetak atau biasa disebut sebagai era Guttenberg, banyak media yang kemudian menjadi garba bagi kelahiran penulis dan karya-karya mereka. Di sana ada news letter, bulettin, koran, tabloid, majalah, jurnal, sampai buku. Dari berbagai jenis media tersebutlah sejarah literasi bangsa ini terbentuk. Sebagai contoh, sebuah penerbitan buku yang berhasil melahirkan banyak penulis menyejarah di negeri ini adalah Balai Pustaka (didirikan tahun 1917 dan bisa bertahan sampai sekarang). Dari rahimnya telah lahir pegarang-pengarang nasional sekaliber Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Muhamad Yamin, sampai H. Agus Salim. Saking berpengaruhnya keberadaan Balai Pustaka, dunia kesusastraan modern Indonesia mengabadikannya dalam penamaan sebuah angkatan; angkatan Balai Pustaka.

            Setelah Balai Pustaka,  adalah majalah Pujangga Baru (terbit pertama 1933) yang kemudian menjadi tempat dilahirkannya berbagai kreasi kepenulisan dan berhasil juga mengorbitkan penulis-penulis sekelas Armijn Pane dan Amir Hamzah (untuk sekadar menyebutkan beberapa nama). Majalah ini bahkan pada masanya menjadi majalah tempat sastrawan-sastrawan dari pelosok tanah air bahkan sampai semenanjung melayu mengirimkan karya-karya mereka. Majalah ini adalah fase kedua reativitas St Takdir Alisjahbana (sebagai pemimpi redasinya) setelah Balai Pustaka). Karena strategi penerbitan dan isu-isu yang diangkatnya majalah ini dijadikan nama angkatan setelah Balai Pustaka. Pada saat yang sama sebenarnya juga ada majalah lain yang berhasil melahirkan banyak sastrawan, di antaranya yaitu Pedoman Masjarakat; sebuah majalah mingguan yang terbit di Medan (1935-1942). Dari majalah tersebut muncul nama-nama seperti Hamka, Aoh K. Hadimadja, Muhammad Dimyati, dan Helmi Sunan Nasution.

            Begitulah, untuk sekadar memberikan contoh, tiga fenomena media tersebut telah berhasil menjadi ibu kandung para sastrawan pada masanya. Belum lagi jika dibicarakan peran media setelah era tersebut, tentu saja takkan termuat dalam kolom singkat ini. Di sana kita bisa berbicara tentang diaspora inkubator penulis dan budayawan lewat semakin banyaknya media. Pada majalah kita mengenal Horison, Kisah, Zaman, Sastra Basis, Annida, dan banyak lagi. Pada Jurnal kita bisa menyebutkan Jurnal Prisma, Kalam, Pantau, Islamica, Islamia, dll. Pada surat kabar nasional layak disebut Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, dll. Semua media itu adalah ibu kandung kedua para penulis tanah air pada masanya. Belum lagi bila kita membicarakan satu era paling mutakhir, yaitu era digital atau cyber (mungkin bisa diangkat dalam pembicaraan selanjutnya).

            Sebagai penutup, dan ini yang terpenting, adalah membicarakan sebuah majalah yang menjadi ibu kandung para penulis muda muslim yang (mayoritas) tergabung dalam Forum Lingkar Pena. Dialah majalah yang sedang kita baca saat ini, ya majalah Annida. Layaklah diulang tahunnya yang ke ... ini kita merayakan perannya sebagai ibu kandung kreativitas dan kreator dunia literasi Islam tahun 90-an sampai sekarang. Lewat kegigihannya Annida berhasil menumbuhkan kembali dunia cerpen remaja setelah era majalah Hai, Aneka, Ceria Remaja, dan sebagainya. Ia bahkan tempat besarnya komunitas Forum Lingkar Pena (tidak terlalu lama setelah FLP didirikan Helvy Tiana Rossa dkk) lewat pola rekruitmen yang dilakukan di dalamnya (berupa aplikasi keanggotaan). Setidaknya .... ratus/ribu pendaftar bergabung lewat majalah ini. Selain itu, lewat Lomba Menulis Cerpen Islami yang diadakan setiap tahun, Annida berhasil juga melahirkan banyak penulis yang kemudian (sebagian besarnya) bergabung menjadi anggota FLP. Di antara mereka sebut saja Sakti Wibowo, Sinta Yudisia, dan penulis sendiri. Jalan lainnya dalam melahirkan para penulis muda Islam Annida berjuang lewat rubrik-rubriknya. Dari sana saya setidaknya mengenal beberapa nama sebagai contoh, yaitu Syamsa Hawa, Jazimah Al-Muhyi, dll. Yang kesemua penulis tersebut saat ini menjadi penulis produktif dan berkualitas.

            Demikianlah, bila komunitas Forum Lingkar Pena dianalogikan sebagai Kesusastraan Indonesia Modern, Annida adalah salah satu angkatannya. Angkatan Annida adalah angkatan Balai Pustakanya Forum Lingkar Pena yang kemudian disusul oleh angkatan-angkatan lainnya sesuai keberadan media yang berpartner dan melahirkannya.

            Selamat Ulang Tahun Annida. Barakallah!

 

                                                                                    Bumi Santosa, 2 Agustus 2007

           

           

 

Membangun Makna Lewat Remah Kata[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

            Pada mulanya adalah kata. Ya, pada mulanya adalah kata. Pada mulanya adalah sekumpulan huruf yang kemudian disematkan arti padanya. Ya, pada mulanya adalah kata. Dan kata adalah sesuatu yang dipungut-pungut oleh seseorang yang (kemudian) dinamakan penulis. Kata adalah harta paling berharga bagi seseorang yang (kemudian) dinamai penulis. Ya, pada mulanya adalah kata.

            Karena pada mulanya adalah kata, mari kita mencarinya, mengumpulkannya, menabungnya, dan (kemudian) merangkainya menjadi makna. Karena pada mulanya adalah kata, mari kita mengabadikannya lewat segala kendaraan makna. Karena pada mulanya adalah kata, jenis tulisan (jadinya) adalah hanya kendaraan bagi makna.

            Puisi adalah motor bagi kata. Cerpen adalah angkot bagi kata. Novel adalah bus bagi kata. Skenario adalah pesawat bagi kata. Artikel adalah taksi bagi kata. Esai adalah bajay bagi kata. Kata adalah kendaraan bagi makna.

            Remah kata yang tak sengaja kita pungut dari pinggir jalan kehidupan adalah nyawa bagi makna. Buah kata yang sengaja kita petik dari pohon pengalaman adalah kehidupan itu sendiri. Bintang kata yang kita teropong di langit imajinasi adalah titik-titik kuasa-Nya. Detak kata pada jantung kreativitas adalah energi bagi gerak diri. Sungguh, dari mana pun asal kata, ialah sumber makna.

 

***

 

            Betul, ada empat hal setidaknya yang harus disadari untuk meraih makna lewat remah kata. Itulah kehidupan, adalah pengalaman, ialah imajinasi, dan kreativitas. Kehidupan adalah ladang bagi kata. Selama kita masih berada di ruang ini, kita disediakan oleh-Nya sebuah ladang kata yang tak habis-habis. Namun, ladang kata hanyalah ladang kata tanpa keinginan kita untuk memasukinya, meraihnya, dan memanennya. Pada titik inilah pengalaman berperan. Seseorang yang takmau meng-alam-i kehidupan takkan mendapatkan apa-apa. Kata-kata dalam ladang itu tetap ranum tak tersentuh.

            Ada berbagai cara mengalami kehidupan, yaitu dengan faktual dan spiritual. Yang faktual bisa kita raih dengan terjun langsung pada peristiwa. Kita berada di dalamnya. Kita memiliki peran di dalamnya, bisa sebagai pelaku, penyerta, bahkan penderita. Yang spiritual bisa kita raih dengan membaca. Adapun objek membaca adalah teks dan teks bukanlah sekadar tulisan. Teks adalah apapun yang kita perhatikan dan “baca” (bisa buku, film, sosok, atau peristiwa). Bedanya bila mengalami secara faktual kita tak berjarak dengan peristiwa, sedangkan membaca sebagai bagian dari mengalami secara spiritual  berjarak dengan peristiwa. Saat membaca kita berada pada ruang yang betul-betul berjarak dengan peristiwa. Karenanya peristiwa dalam konteks ini disebut teks seperti juga tulisan.

            Setelah pengalaman adalah imajinasi. Sungguh, hal yang satu ini tak kalah penting dari yang lainnya karena imajinasilah sumber dari kreasi. Tanpa imajinasi seorang pengalam kehidupan hanyalah pengalam kehidupan. Ia tidak bisa merekanya menjadi bentuk lain. Ia tidak akan mencapai pembaharuan. Tak ada teknologi, tak ada sains, tak ada desain, tak ada novel, tak ada cerpen, dan tak ada bentuk perwujudan apa pun. Imajinasi adalah energi untuk mereka peristiwa, fakta, menjadi bentuk manusiawi. Dalam hal ini terjadi transformasi dari energi ke-Mahapencipta-an Tuhan ke kekuatan kemenggubahan manusia.

            Terakhir adalah kreativitas. Ya, betul kreativitas adalah proses perwujudan setelah pengalaman berpadu dengan imajinasi. Tanpa kreativitas wujud rekaan hanyalah konsep semata. Konsep yang hanya ada di benak perseorangan yang tak tersentuh oleh siapapun. Tak ada kreativitas tanpa bentuk kreasi. Teknologi, sains, desain, arsitektur, lagu, cerpen, novel, puisi, dan sebagainya baru berharga bila sudah terwujud atau berproses dalam sebuah perwujudan. Sebuah bentuk baru.

 

***

 

            Kata sebenarnya adalah kita. Ya, bukankah hanya satu huruf saja yang memisahkan makna [k] [a] [t] [a] dan [k] [i] [t] [a]. huruf [a] dan [i]  adalah vokal yang memiliki makna perbedaan dimensi saja. Kita berada pada dimensi hakikat dan kata bersemayam pada dimensi representasi. Kita adalah kata yang terungkap. Kata adalah cermin identitas kita. Oang lain akan melihat kita pada kata yang kita produksi lewat sebuah tindak kreasi. Jadi, tulisan kita, apa pun bentuknya, adalah representasi identitas kita.

            Dari semua itu, marilah kita membangun makna lewat remah kata. Untuk itu, ada beberapa cara yang bisa dicoba. Pertama, bermain puzzle. Kedua, mencari penghubung. Ketiga, mencari bentuk baru. Keempat, menemukan pada ruang kosong. Kelima, berinspirasi dari satu kata. Terakhir, mendekonstruksi.

1.      Bermain Puzzle: menulis adalah menyusun kata yang senantiasa berserak di sekitar kita dari teks-teks yang telah kita baca dan dari pengalaman yang telah kita lakoni.

2.      Mencari Penghubung: menulis adalah menghubungkan kalimat-kalimat yang tak bermakna karena berbeda ruang dengan kata-kata penghubung yang kita cari sendiri.

3.      Mencari Bentuk Baru: menulis adalah mencari bentuk baru dari bentuk yang sudah ada atau sebuah kesinoniman.

4.      Menemukan pada Ruang Kosong: Menulis adalah mencari ide dari ruang kosong. Mencari kata dari nol ide adalah sangat menantang.

5.      Berinspirasi dai Satu Kata: Menulis acap kali berawal dari kata kunci.

6.      Mendekonstruksi: Menulis adalah menyikapi sesuatu dari sudut pandang yang terbalik.

 

***

 

            Pada mulanya adalah kata. Ya, pada mulanya adalah kata. Pada mulanya adalah sekumpulan huruf yang kemudian disematkan arti padanya. Ya, pada mulanya adalah kata. Dan kata adalah sesuatu yang dipungut-pungut oleh seseorang yang (kemudian) dinamakan penulis. Kata adalah harta paling berharga bagi seseorang yang (kemudian) dinamai penulis. Ya, pada mulanya adalah kata.

            Karena pada mulanya adalah kata, mari kita mencarinya, mengumpulkannya, menabungnya, dan (kemudian) merangkainya menjadi makna. Karena pada mulanya adalah kata, mari kita mengabadikannya lewat segala kendaraan makna. Karena pada mulanya adalah kata, jenis tulisan (jadinya) adalah hanya kendaraan bagi makna.

            Puisi adalah motor bagi kata. Cerpen adalah angkot bagi kata. Novel adalah bus bagi kata. Skenario adalah pesawat bagi kata. Artikel adalah taksi bagi kata. Esai adalah bajay bagi kata. Kata adalah kendaraan bagi makna.

            Remah kata yang tak sengaja kita pungut dari pinggir jalan kehidupan adalah nyawa bagi makna. Buah kata yang sengaja kita petik dari pohon pengalaman adalah kehidupan itu sendiri. Bintang kata yang kita teropong di langit imajinasi adalah titik-titik kuasa-Nya. Detak kata pada jantung kreativitas adalah energi bagi gerak diri. Sungguh, dari mana pun asal kata, ialah sumber makna. Wallahu’alam.

 

                                                           

                                                                                    Bandung, 14-15 Juni 2007

 



[1] Tulisan ini dipresentasikan pada acara pelatihan menulis FLP Hongkong, 17 Juni 2007.

KEKAYAAN ITU BERNAMA PENGALAMAN MULTIRUANG

: Menguak Keajaiban Sastra Buruh Migran

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

Saya tergugah dengan kata keajaiban karena kata ini (menurut saya) muncul dari ruang sempit kehidupan, dari sebuah makna ketakterjangkauan, ketakmungkinan. Sesuatu yang ajaib (seolah) adalah bentuk jawaban dari pertanyaan yang begitu lama tak terbersit sedikitpun. Begitulah seseorang berteriak saat seorang anak berumur 5 tahun hapal al-Quran al Karim beserta tafsirnya. Ajaib! Begitupun seseorang bergumam saat melihat seorang nenek 70 tahun melahirkan. Ajaib!

 

Keajaiban-keajaiban tersebut terjadi karena adanya kesenjangan informasi tentang sebuah proses. Seorang anak 5 tahun yang dikatakan ajaib itu muncul dari ketidakumuman proses. Karenanya ia seperti muncul tiba-tiba Sim salabim! Begitupun dengan fenomena lainnya. Padahal, sebenarnya, di antara fenomena keajaiban yang tiba-tiba itu adalah proses yang sangat kuat, proses yang juga mungkin sangat panjang, bahkan melewati kurun waktu beberapa generasi. Namun, semua proses itu diketahui kemudian setelah hasilnya menjadi fenomena. Setelah itu, biasanya orang akan mengugkapkan kata: “Oooh, pantesan ….!

 

Pada proses mencari jawaban itulah terjadi demitologisasi keajaiban atau rasionalisasi keajaiban. Dan setelah jawabannya ditemukan, akan terjadilah sebuah proses bersama. Bahwa sebuah hasil yang menakjubkan itu sekarang bisa dilakukan oleh yang lainnya. Setelah, itu muncullah prestasi-prestasi massif-kolektif. Dari kejaiban menjadi sebuah prestasi.

                                                            ***

 

 

Ada apa dengan buruh migran Indonesia di Hongkong sehingga mereka bisa berkarya, padahal ruang mereka sempit untuk melakukan hal itu? Menurut saya ada beberapa rasionalisasi pada “keajaiban” fenomena tersebut:

  1. Imbas keglobalan
  2. Dukungan sistem
  3. Munculnya unsur penggerak dan menyokong
  4. Bertubinya pewacanaan
  5. Adanya tindak lanjut penerbitan

 

Setidaknya lima faktor inilah yang menurut saya menjadi kunci jawaban munculnya kata keajaiban itu.

 

Yang dimaksud imbas keglobalan adalah proses komunikasi yang nirruang lewat internet dan teknologi lainnya. Seorang buruh migran dapat berkomunikasi dengan intens dengan orang di luar dirinya, di luar ruang juangnya. Ia bisa berhubungan dengan para penulis lewat jalur ini. Itulah yang terjadi di Forum Lingkar Pena dan komunitas kepenulisan lainnya. Namun, tentu saja hal ini didukung oleh sistem yang ada. Sepertinya, sistem ketenagakerjaan di Hongkong mendukung aktivitas kreatif para buruh ini. Dan sistem tersebut disambut baik oleh para penggerak dan penyokong. Seorang penggerak memanfaatkan ini sebagai peluang kreatif dan menghimpun buruh-buruh lainnya dalam sebuah organisasi kepenulisan, di antaranya FLP. Selain itu, tentu saja bersambut dengan dukungan dari para penyokong. Lembaga-lembaga, maupun personal-personal yang betul-betul mendukung gerak para buruh ini patut diberi penghormatan tersendiri. Selanjutnya, gerakan sastra buruh ini disambut baik oleh pewacanaan demi pewacanaan. Diskusi demi diskusi digelar untuk membahasnya bahkan di FLP diapresiasi dengan penobatan FLP Hongkong sebagai FLP terbaik pada tahun 2005. Terlebih lagi, ternyata para penerbit berminat untuk menerbitkan karya mereka, seperti juga yang dilakukan oleh FLP Hongkong dengan menerbitkan kumplan cerpen bersama maupun individu, juga karya-karya nonfiksi. Begitu juga dengan adanya bulletin bulanan dan keterlibatan kreatif para anggota dengan mengirim tulisan ke surat kabar Suara.

 

Setidaknya itulah rasionalisasi atas ketakjuban fenomena maraknya Sastra Buruh Migran di Hongkong ini. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah membicarakan tentang potensi kualitatif kekaryaan. Ya, menurut saya penulis buruh migran memiliki potensi kepenulisan yang luar biasa. Hal ini disebabkan oleh sebuah kekayaan yang (mungkin) tidak dimiliki oleh para penulis professional sekalipun di Indonesia. Kekayaan itu bernama pengalaman multiruang.

 

Tentang hal ini, saya optimstis para penulis buruh migran Indonesia khususnya FLP Hongkong akan menggenapkan istilah kesusastraan yang telah mengglobal, yaitu sastra Imigran. Sastra yang ditulis oleh manusia-manusia multiruang. Sastra jenis inilah yang kemudian mendapat respon baik dari industri perbukuan dunia. Namun, di antara mereka masih penulis-penulis dari negeri lain seperti orang-orang India yang (tersesat) di belantara Amerika seperti Jumpha Lahiri dan kawan-kawan, bahkan Orhan Pamuk (pemenang nobel sastra 2007) juga adalah sastrawan imigran asal Turki atau Ameen Maalof, dan sebagainya.

 

Mengapa mereka mendapat sambutan hangat dalam kesusastraan dunia saat ini? Menurut saya, karena merekalah representasi dari budaya global yang telah mendobrak sekat-sekat budaya tanpa kehilangan akar-akar budaya lokalnya. Lokalitas menjadi energi kreatif dalam dunia global yang sumir. Begitupun dengan penulis buruh migran Indonesia, mereka layak dilesatkan menuju ruang itu. Tentu saja dengan dukungan  lima faktor tersebut karena mereka memiliki kekayaan yang bernama pengalaman multiruang. Dengannya tidak lagi proses kreatif ini disebut ajaib karena, sungguh, ini bisa dilakukan secara kolektif dan terorganisasikan yang salah satunya lewat Forum Lingkar Pena Hongkong. Wallahua’lam.

 

                                                                                    Hongkong, 17 Juni 2007

 

 

           

NB: Tiga tulisan tersebut ada di kolom Cakrawala Annida bulan September, Oktober, dan November. Bacalah Annida bulan Desember dan temukan esai saya berikutnya!

 


Blog EntryDec 23, '06 5:49 AM
for everyone

Oleh M. Irfan Hidayatullah

Sastra adalah identitas budaya yang terkonstruksi oleh zaman. Zaman sebagai ruang tempat manusia berperan dalam pergulatan identitas. Ruang tempat berdialognya (meminjam istilah Bakhtin) berbagai paradigma pergerakan, berbagai ideologi. Sastra bukanlah sebuah nomina yang objektif dalam ruang yang penuh representasi identitas. Karenanya sastra bukanlah sesuatu yang harus disanjung keberadaannya sebagai sebuah entitas seni yang unggul dalam menyelesaikan permasalahan karena (kadang atau bahkan sering kali) sastra dijadikan alat yang efektif bagi sebuah kekuasaan.

Di Indonesia, hubungan sastra dengan kepentingan ideologi pengarangnya telah tertulis dengan huruf tebal. Sejak kolonialisasi Belanda, kesusastraan telah terformat berdasarkan kepentingan penguasa (baca: penjajah). Melalui nota Rinkes saat itu (1930-an) Belanda membentuk sebuah lembaga sensor yang ketat untuk meredam suara-suara penyulut kritisisme dan perlawanan rakyat. Dari rahim semacam itu lahirlah karya-karya yang relatif aman, netral, dan mewakili representasi kepentingan kolonial. Setelah itu, sejarah tertulis dengan tinta emas bahwa kesusastraan modern Indonesia dimulai sejak Balai Pustaka menerbitkan Azab dan Sengsara, dan selanjutnya. Padahal pada saat itu sastra dengan bahasa melayu rendah yang ditulis oleh Tionghoa peranakan dan sastra religius Islam telah marak dan menguasai pasar. Namun, demikianlah sejarah telah dituliskan. Begitu pula saat Lekra muncul dan menjadi corong Partai Komunis Indonesia dalam saluran seni, kredibilitas sastra kembali tercoreng lewat aksi represif politis para pengusung Realisme Sosialis. Begitulah seterusnya, saat Suharto dengan Orde Barunya berkuasa keadaan berbalik, para pengarang dan penggagas Lekra menjadi bulan-bulanan politik dan para pengarang mengamankan diri pada tema-tema yang absurd. Pramoedya Ananta Toer dipenjara dan buku-bukunya dilarang beredar (tapi menjadi buku yang paling dicari pembaca sastra saat itu dalam bentuk foto-kopian). Demikianlah seterusnya teror dalam tubuh kesusastraan itu betul- betul ada. Ya, ini teror untuk kreativitas bersastra dalam bentuk yang nyata. ***

Sastra adalah identitas budaya yang terkonstruksi oleh zaman. Zaman sebagai ruang tempat manusia berperan dalam pergulatan identitas. Ruang tempat berdialognya (meminjam istilah Bakhtin) berbagai paradigma pergerakan, berbagai ideologi. Sastra bukanlah sebuah nomina yang objektif dalam ruang yang penuh representasi identitas. Karenanya sastra bukanlah sesuatu yang harus disanjung keberadaannya sebagai sebuah entitas seni yang unggul dalam menyelesaikan permasalahan karena (kadang atau bahkan sering kali) sastra dijadikan alat yang efektif bagi sebuah kekuasaan. Lantas kekuasaan semacam apakah yang meneror kreativitas sastra saat ini? Adalah globalisasi yang datang dengan mengatasnamakan demokrasi dan kebebasan ekspresi telah menjadi ruh baru sastra Indonesia. Dalam hal ini, saya sepakat dengan saudara Nemichandra yang menegaskan bahwa Terror and Globalization are not too far from each other. Lewat jargon globalisasi tersebut sastra hidup tanpa akar identitas yang jelas. Sastra menjadi hibrid dan gagap menyampaikan kearipan lokal yang menjadi kekayaan batin masyarakat. Lewat kebudayaan hibrid konsepsi nilai menjadi chaos dan dari kechaosan itu muncullah moralitas baru yang menjiplak nilai-nilai yang diusung ideologi neoliberalis yang menjadikan sastra sebagai artikulatornya. Selain itu, ditunjang oleh kekuatan budaya pasar yang menjadikan etos bersastra menjadi etos popular. Etos yang berorientasi pada hasrat banal masyarakat yang telah dikonstruksi lewat media-media baru. Demikianlah, akhirnya sastra tak bisa merekam secara jernih nilai-nilai kontrateror. Nilai-nilai yang sangat diperlukan untuk sebuah rekonsiliasi rasa curiga antaretnis, antarsuku bangsa, dan antaragama. Nilai-nilai yang diusung (sebagian) karya sastra Indonesia sekarang ini adalah kebebasan, feminisme liberal, dan relativisme nilai yang dilawankan dengan pranata-pranata moral masyarakat yang telah menjadi anutan sejak lama. Ini memang merupakan refleksi dari kegoncangan moral masyarakat kontemporer kota, tetapi ini sama sekali tak membantu secara signifikan dalam membangun mental masyarakat. Ini hanya mengukuhkan nilai-nilai baru dalam lewat artikulasi sastra. Dengan kata, sastra menjadi salah satu kontributor chaosnya nilai dan kechaosan adalah inti dari terorisme. ***

Sastra adalah identitas budaya yang terkonstruksi oleh zaman. Zaman sebagai ruang tempat manusia berperan dalam pergulatan identitas. Ruang tempat berdialognya (meminjam istilah Bakhtin) berbagai paradigma pergerakan, berbagai ideologi. Sastra bukanlah sebuah nomina yang objektif dalam ruang yang penuh representasi identitas. Karenanya sastra bukanlah sesuatu yang harus disanjung keberadaannya sebagai sebuah entitas seni yang unggul dalam menyelesaikan permasalahan karena (kadang atau bahkan sering kali) sastra dijadikan alat yang efektif bagi sebuah kekuasaan. Ya, sastra adalah entitas intersubjektif (Kuntowijoyo, 1987). Sebuah hasil dari berbagai subjektivitas yang kemudian berarsiran pada nilai-nilai universal. Hulu sastra adalah konteks pengarangnya yang sarat dengan identitas lokal sedangkan hilirnya adalah ruang universal kemanusiaan. Karenanya, untuk menjadikan sastra berada di luar “kekuasaan” yang akan meneror kreativitas nilai-nilai lokal harus dipertahankan dan (bahkan) diperkuat. Setelah itu, sastra akan mampu menyuarakan hasil ingatannya tentang segala peristiwa termasuk di era teror ini dengan jernih. Setidaknya, itulah yang saya rasakan perlu untuk kondisi negeri saya, Indonesia. Negeri yang terus didera teror. Yaitu, mengembalikan sastra pada suara masyarakatnya yang masih memiliki nilai-nilai laten yang kuat baik berdasarkan agama, maupun adat istiadat. Dengan kekayaan itu sastra setidaknya bisa menjadi artikulasi perdamaian melawan terorisme.

Bandung, 14 Oktober 2006


Blog EntryMay 4, '06 11:04 PM
for everyone

Manusia dan Usaha Mereka-reka Pengalaman

;Sebuah Pemetaan Tradisi Bercerita

Oleh Moch. Irfan Hidayatullah

 

1. Manusia dan Kehidupan

            Kebudayaan yang merupakan hasil dari refresentasi alur kehidupan manusia adalah sebuah makrokosmos bagi dunia ingatan manusia. Dunia ingatan yang kemudian memunculkan aksi penggumpalan-penggumpalan peristiwa dalam ruang lingkup memori dan cita-cita. Memori memunculkan aspek kesejarahan sedangkan cita-cita memunculkan aspek harapan dan imajinasi. Pada titik ini muncullah apa yang disebut mimesis. Kebudayaan sebagai wacana alam semesta dalam hal ini dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi. Setelah terbentuknya wacana kemudian akan muncul pula sebuah penggumpal-an-penggumpalan selanjutnya yang lebih kecil ruang lingkupnya. Penggumpalan yang diambil dari sebuah konflik pada alur makro tersebut. Manusia yang fana di dunia mempunyai berbagai macam konflik yang akan membangun jaring-jaring kebudayaan.

            Konflik dunia misalnya dengan adanya peperangan, dengan adanya saling kuasa menguasai. Konflik bencana alam, misalnya, yang akan mengubah alur pada sebuah nilai tragis yang justru menjadikan lahan bagi tumbuhnya nilai-nilai moral kemanusiaan. Konflik kerasulan, misalnya, yang menunjukkan nyatanya fungsi kepemimpinan manusia lewat utusan-utusan-Nya yang diabadikan dalam kitab-kitab dan yang dijadikan pedoman bagi langkah kepemimpinan manusia selanjutnya. Atau malah konflik yang bersifat regional, konflik penjajahan, konflik nasionalisme, konflik pemerintahan, konflik disintegrasi komunitas sampai pada konflik masyarakat yang terbangun dari keluarga dan individu-individu yang konsisten menciptakan permasalahan.

            Dapat disimpulkan bahwa manusia adalah salah satu variabel kehidupan yang mempunyai potensi untuk mengabadikan kefanaan hidupnya dalam bentuk nilai-nilai kebudayaan yang kemudian akan diturunkan pada generasi-generasi selanjutnya.

 

2. Manusia dan Waktu

            Kehidupan manusia dibatasi oleh ruang dan waktu yang untuk selanjutnya akan menciptakan tindakan bermacam-macam sesuai dengan pendefinisian hubungan antara manusia, ruang, dan waktu itu sendiri. Banyak manusia yang permisif disebabkan oleh ketakpercayaan akan adanya dimensi lain selain kehidupannya saat ini. Manusia berlomba-lomba memanfaatkan kehidupannya sesuai dengan keyakinan akan waktu ter-sebut.

            Berhubungan dengan waktu maka manusia mempunyai berbagai macam kegiatan yang akan merefresentasikan idenya tentang kehidupan. Kefanaan manusia akan me-munculkan kefanaan-kefanaan yang lain lewat miniatur kehidupan pada sebuah cerita atau kisah. Cerita atau kisah tersebut bisa muncul dalam beragam sifat, bersifat kenangan, bersifat harapan, dan bersifat khayalan.

 

3. Pengendapan Pengalaman

            Pengalaman yang diterima oleh manusia senantiasa selalu diendapkan dengan pengendapan yang berbeda-beda. Seorang manusia yang berhasil mengendapkan peng-alaman dengan baik akan lebih mungkin untuk banyak berefresentasi pada lingkungan-nya. Pengalaman yang diendapkannyapun dapat berupa pengalaman akuan, diaan, merekaan dan sebagainya yang kemudian akan memunculkan ide-ide kenangan, ide-ide harapan, dan ide-de khayalan. Semua berasal dari pengendapan pengalaman.

            Pengendapan yang paripurna akan muncul jika manusia memiliki kepekaan untuk merekam kesan-kesan puncak dalam kehidupan yang dirasakan (dialami) dan di-perhatikan. Kesan-kesan puncak inilah yang membuat sebuah kisah manusia penuh dengan ketegangan dan asyik untuk diceritakan. Selain itu pengendapan yang paripurna akan digabungkan dengan sebuah tindakan responsif dari lingkungan (masyarakat) sehingga muncul sebuah keutuhan alur, keutuhan tokoh, dan keutuhan setting. Setelah itu muncullah fase penciptaan kesan khayali lewat imajinasi manusia.

            Pewarnaan dengan kesan khayali atau imajinasi manusia ini memungkinkan munculnya berbagai macam jenis refresentasi bergantung pada latar belakang stok respon menusia pencerita. Stok respon yang juga muncul dari hasil pengendapan lain akan berbeda satu sama lain bergantung daya dialog manusia dengan berbagai fenomena, baik lewat bacaan, tontonan, ataupun kejadian nyata. Akhirnya terjadilah sebuah gumpalan-gumpalan yang kemudian mengkristal dalam bentuk ide cerita yang telah beralur, bersetting, bertokoh, dan tentu saja bertema dan beramanat. Sebuah dunia baru yang secara objektif disebut sebagai dunia otonom.

 

4. Refresentasi Pengalaman

            Refresentasi manusia terhadap pengalaman mereka setelah fase pengendapan  akan berbeda-beda bergantung pada situasi dan kondisi. Refresentasi tersebut bisa berbentuk gumaman-gumaman, teriakan-teriakan, tanggapan-tanggapan, usulan-usulan, kecaman-kecaman, dan presentasi-presentasi.

            Yang kemudian dilakukan oleh manusia pencerita adalah membuat sebuah struktur presentasi sehingga maksud yang terkandung pada niat terejawantahkan secara utuh. Strukturisasi presentasi ini akan memunculkan berbagai jenis gumaman, berbagai jenis teriakan, berbagai jenis usulan, dan seterusnya yang dikemas dalam berbagai jenis refresentasi verbal, seperti keluhan, yel-yel, demonstrasi, seminar-seminar, dan tulisan-tulisan.

            Sebelum dunia mengenal cetak-mencetak refresentasi yang paling memungkinkan adalah menceritakan pengendapan pengalaman secara lisan. Di sana ada dongeng se-belum tidur, ada pantun-pantun, ada syair, ada mantra dan sebagainya. Bentuk-bentuk refresentasi tersebut muncul dari sebuah kebutuhan yang spontan akan sosialisasi ide-ide (setelah melalui fase pengendapan paripurna) yang kemudian lebih bersifat komunal dan anonim. Pada tataran ini masyarakat dihadapkan pada sebuah dunia yang sama dalam hakikat perefresentasian hanya saja secara teknik terejawantahkan secara berbeda. Ruang-ruang publik yang secara langsung digunakan oleh mereka sangat memungkinkan untuk menggerakkan mereka secara individu. Oleh karena itu, aksi perefresentasian akan dilakukan oleh individu-individu sebagai subyek perwakilan dirinya sendiri. Dongeng sebelum tidur misalnya. Generasi yang dihasilkan dari fase ini adalah generasi pelanjut cerita yang kemudian menjadi mitos dikemudian hari.

            Selanjutnya muncullah teknologi yang mewakili refresentasi yang menghasilkan teks di luar aksi pelisanan. Kondisi ini memunculkan sebuah gerakan pengacak-acakan pada tataran aksional. Pelisanan yang mempunyai aspek sosial tinggi melebur pada dunia-dunia teks lain. Dunia yang secara tidak langsung dimaksudkan untuk mewakili pelisanan yang mempunyai efek sosial yang berbeda. Teks yang kemudian dinobatkan memiliki otonomi makna secara khusus memiliki nafas yang panjang pada kehidupannya. Teks tersebut bisa monumental oleh karena itu hilanglah tradisi anonim dan tradisi komunal.

 

5. Media Mereka-reka Pengalaman

            Teks adalah bentuk rekaan pengalaman. Teks adalah media interpretasi sebuah konteks. Interpretasi yang secara manusiawi perlu dicurahkan atau disosialisasikan.

            Pencurahan atau sosialisasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai juru cerita muncul dari berbagai motivasi. Pertama adalah motivasi sosial, manusia memerlu-kan aksi pembumian cerita sebagai pengejawantahan fungsi sosial mereka. Teks yang di-curahkan terindikasikan oleh fungsi sosial kemasyarakatan. Apakah teks tersebut mempunyai muatan tertentu itu tidak menjadi masalah karena banyak juru cerita yang hanya bertindak sebagai juru cerita bukan penggerak idiologis. Motivasi sosial ini biasa-nya inheren dalam sebuah tema. Teks yang dikeluarkan kepada masyarakat tentu saja mempunyai aspek-aspek moral yang akan berdampak pada masyarakat. Akan tetapi, sesuai perkembangan zaman, motivasi sosial dari pencurahan rekaan pengalaman ini terwujud ketika media perefresentasian masih sederhana (pelisanan). Pada saat itu motivasi sosial adalah motivasi tertinggi.

            Motivasi kedua adalah motivasi profesional. Motivasi ini muncul ketika teks telah menjadi komoditas penghasil uang dan prestise. Teks yang berada pada motivasi profesional ini adalah teks yang telah berdialektika dengan kebutuhan pasar. Motivasi profesional ini muncul dari sebuah sistem refresentasi yang telah berteknologi. Lebih meningkat teknologi refresentasi, lebih meningkat pula motivasi tersebut karena dalam hal ini ada penumpukan jasa. Manusia lain yang menjadi bagian penting dalam pe-luncuran teks terminimalkan oleh datangnya teknologi. Semakin berkembang teknologi semakin tertumpuk pulalah jasa-jasa pada individu-individu pencetus teks itu sendiri. Setelah itu, lunturlah fungsi sosial sedikit demi sedikit. Semuanya digantikan oleh tekno-logi. Sosialisasi kebendaan. Lewat buku, lewat radio, lewat televisi, lewat internet, dan sebagainya. Di sinilah munculnya sebuah kemapanan bentuk sosialisasi modern, serba tidak langsung. Sosialisasi kebendaan yang mengalienasikan unsur-unsur kemanusiaan (meminimalkan pemunculan unsur-unsur tersebut) sehingga motivasi sosial hanya muncul pada tataran ide yang melandasi terbentuknya cerita (yag bisa didapatkan bukan dari lingkungan langsung, tapi bisa dari bacaan dan tontonan).

            Motivasi ketiga adalah motivasi tendensial atau motivasi ideologis, yang akan menghasilkan kerja idealis. Teks yang meluncur dari motivasi ini sarat dengan ajakan-ajakan yang mengerucut pada satu titik ideologi, yaitu ideologi pengarang dan ideologi komunitas seorang juru cerita. Motivasi ketiga ini muncul dari sebuah kepentingan se-seorang atau sekumpulan orang yang meyakini sebuah cita-cita, yang kadang utopi, dan beranggapan bahwa cita-cita tersebut adalah baik bagi semua orang. Pada tataran ini akan terbentuklah sistem-sistem yang mendukung tersampaikannya tujuan ideologis tersebut. Pada praktiknya motivasi tendensial ini akan merasuk pada motivasi yang lain dengan persentase yang berbeda-beda karena tentu saja setiap juru cerita mempunyai ideologi yang berbeda-beda. Hanya saja jika ideologi yang dianut seorang juru cerita merupakan ideologi yang telah sistematis, misalnya dalam bentuk kelompok-kelompok tertentu, maka kepentingan kelompoklah yang dituju. Sedangkan ideologi masyarakat umum biasanya muncul dari tatanan umum yang telah mendasari kehidupan bermasyarakat, yakni, agama dan adat istiadat. Motivasi tendensial yang berlandaskan ideologi masyarakat tersebut biasanya bisa lebih membumi dibanding dengan idiologi kelompok.

            Ketiga motivasi tersebut tentu saja tidak berada pada kondisi mandiri tetapi bisaanya saling bersinggungan satu sama lain, saling berarsiran. Hanya saja titik berat motivasinya ke arah mana itu bisa terdeteksi jika para pembaca teks menganalisis teks lebih mendalam.

            Terlepas dari motivasi di atas teks yang telah dikeluarkan sebagai hasil rekaan pengalaman manusia akhirnya akan muncul dalam berbagai jenis media refresentasi. Pertama adalah media lisan yang muncul sebelum adanya teknologi cetak- mencetak. Walaupun pada kenyataannya pada saat itu manusia berusaha mengabadikan sejarahnya lewat prasasti-prasasti dan sebagainya. Media lisan ini pada zaman modern kadang masih sering diperlukan karena kemurniannya, kelangsungannya, dan mempunyai aspek feed back yang langsung dari pendengar. Sebagai contoh, selain dipublikasikan lewat media cetak dan media lainnya, takjarang pengarang hadir membacakan karyanya pada sebuah acara dan membahasnya dalam sebuah diskusi. Kedua, adalah media cetak. Media yang muncul pada era Gutenberg ini adalah media yang dirasakan efektif dalam mem-produktifkan manusia. Dari media ini kita mengenal apa yang disebut dengan membaca. Membaca yang berarti tindak mentransfer pengetahuan lewat penglihatan sebenarnya merupakan aktivitas yang sudah sering dilakukan oleh manusia dalam rangka perenung-an, misalnya membaca tanda-tanda alam dan tanda-tanda kemanusiaan. Hanya saja membaca pada media refresentasi pengalaman ini adalah membaca dalam artian tekstual. Di sini ada aksi penggantian tanda yang dijadikan objek bacaan. Penggantian tanda dari ikon, indeks, ke simbol. Aksara adalah simbol yang muncul dari konvensi masyarakat.

            Ketiga adalah media audio atau media pendengaran. Media pendengaran kali ini adalah bukan media pendengaran yang juga terjadi pada media lisan tetapi media pen-dengaran yang  bermedia yaitu teknologi. Media audio ini biasanya diwakili oleh radio. Radio seringkali dijadikan media merefresentasikan pengalaman dalam bentuk sebuah episode cerita yang dikemas sedemikian mungkin sehingga masyarakat dapat menerima-nya secara saksama. Pada era 80-an di Indonesia sangat menggejala sekali cerita rakyat yang dipancarkan oleh radio-radio sehingga sangat terlihat masyarakat mempunyai harapan-harapan yang nyata pada sebuah alur cerita.

            Keempat adalah media audio visual. Media yang saat ini tengah merajai berbagai media yang ada, bahkan secara budaya telah menjadi budaya popular di masyarakat. Jarang sekali masyarakat yang tidak memanfaatkan media ini untuk mengetahui dunia-dunia (otonom) lain sampai-sampai kecenderungan masyarakat akan media yang lain tersisihkan karena media ini. Media visual ,dalam hal ini buku, sangat mungkinmenjadi media yang paling tersisihkan karena budaya ini, jika budaya baca belum tertanam kuat dalam masyarakat sedangkan budaya menikmati media audio visual telah merasuk.

            Terakhir adalah multi media. Media yang muncul dari kecenderungan terakhir teknologi. Saat ini multi media yang direfresentasikan oleh munculnya internet mulai dijelajahi dan dijadikan alternatif oleh para juru cerita. Bahkan telah ada situs-situs tertentu yang mengkhususkan diri dalam membangun tradisi bercerita ini. Setelah munculnya media multimedia ini media yang lain terutama buku telah mempunyai sebutan baru sebagai media tradisional.

 

6. Proses Komunikasi

            Setelah sebuah pengendapan pengalaman telah menjadi sebuah teks cerita, maka yang diperlukan oleh seorang juru cerita adalah sebuah proses komunikasi yang efektif. Pengarang sebagai pembuat sebuah dunia endapan yang otonom mau tidak mau dalam hal ini harus disebut sebagai seorang juru cerita karena di balik istilah itu ada sebuah ikon yang transfaran dalam hubungannya dengan proses komunikasi.

            Seorang juru cerita adalah seorang pemroduksi teks yang mempunyai citra imajinatif, yaitu citra gabungan antara seorang penulis dan pelisan endapan pengalaman. Juru cerita senantiasa merasakan selalu sebuah ruang imajiner antara dirinya dengan para pendengar yang face to face. Pendengar yang berarti pembaca akan merasakan sebuah sisi imajiner pula dengan munculnya niat-niat umpan balik, maka pada titik inilah budaya kritik akan muncul.

            Setelah semuanya proses komunikasi terjadi seorang pendengar yang berarti pembaca akan dihadapkan pada sebuah tindak pendefinisian isi komunikasi yang diawali oleh persefsi bebas tentang teks yang ditangkap. Pendefinisian ini akan berlanjut pada sebuah simpulan yang kemudian mengendap secara simultan pada stok respon pembaca yang setelah bergabung dengan hasil pengkritisan sebagai efek dari  umpan balik menjadi sebuah pengendapan pengalaman baru yang kemudian akan berujud sebuah teks baru. Begitulah selanjutnya dan seterusnya. Oleh karena itu, seorang pembaca/pendengar adalah seorang juru cerita selanjutnya.

                                                                                                                Cemara, 2000

 


Blog EntryApr 29, '06 12:29 PM
for everyone

Sajak Ini

 

Sebuah hela napas

pada detik yang sempurna

gigil. dan tak ada purnama

di depan pusara makna.

 

kulihat sekelebat bayang diri

pada ruang zonder identitas

uh, aku hampir mereka yang tlah mereka

simulakra.... abrakadabra

 

kini tapaku sirna

tertampar kesadaran

kuberanjak dan siap luka

 

(Bandung, 29 Mei 2006)


Blog EntryApr 29, '06 12:13 PM
for everyone

INI SEBUAH RUANG BAGI DIRI YANG SERING BEKU DALAM RENUNG DAN TEGUN DALAM ENDAPAN MAKNA.... WAHAI HIDUP, TERIMALAH LANGKAH KECIL INI!